Senin, 14 November 2011

Metode Penafsiran Kitab Wahyu


Jelaskan beberapa posisi tentang metode penafsiran kitab Wahyu dan bagaimana metode penafsiran yang benar?

Dalam gereja Kristen timbul empat cara pandangan utama terhadap kitab wahyu :

  1. Pandangan Kaum Preteris
Pandangan ini mengangggap kitab wahyu melukiskan peristiwa-peristiwa masa lampau. Preteris memandang semua penglihatan timbul dari keadaan-keadaan dalam kekaisaran Romawi pada abad 1 M. Sang pelihat dibuat ngeri oleh kemungkinan-kemungkina terjadinya kejahatan yang melekat pada kekaisaran Romawi, dan ia memakai bahasa simbolis untuk memprotesnya, juga untuk menyatakan keyakinannya bahwa Allah akan campur tangan untuk memberlakukan apa yang sesuai dengan kehendakNya. Umumnya ahli beraliran liberal meyakini pandangan ini.
Dan itulah yang membuat mereka memahami kitab itu tanpa menemukan dalamnya tempat bagi nubuat mengenai masa depan. Sementara itu mereka melihat dalam Wahyu betapa tegas penekanan akan betapa pentingnya pemerintahan moral Allah atas dunia. Pandangan demikian menancapkan pengaruh Kitab itu dalam berbagai keadaan pada masa penulis sendiri, yang tentu adalah benar. Tetapi pandangan Preteris mengabaikan bahwa Kitab itu menyebut dirinya “nubuat” (Wahyu 1:3), dan bahwa beberapa ramalannya menunjuk pada hal yang masih akan datang (missal: pasal 21-22).

  1. Pandangan Kaum Historis
Pandangan ini menganggap Wahyu sebagai sentuhan satu kali kuas raksasa melukiskan lengkap panorama sejarah dunia dari abad 1 sampai datangnya Kristus yang kedua kali. Zaman penulis sendiri disebut, juga zaman akhir, tetapi tidak ada peyunjuk bahwa jalannya sejarah terputus di suatu tempat. Karena itu para penganut pandangan ini menalar bahwa Wahyu menyajikan cerita yang kontinu tentang segenap periode sejarah.
Pandangan ini dianut oleh kebanyakan reformator. Tapi nampaknya kesulitan tetap tidak teratasi. Dan penting disadari bahwa kendati semua sejarah gambling dipaparkan disini, namun para sejarawan belum sepakat antara mereka sendiri mengenai peristiwa-peristiwa bersejarah yang mana yang dilambangkan dalam bermacam-macam penglihatan itu. Dalam kurun waktu 1.900 tahun, orang mengharapkan paling tidak pokok-pokok utama akan sudah nampak jelas! Juga sulit dipahami mengapa garis besar sejarah dalam Wahyu dibatasi pada sejarah Eropa Barat, mengingat terutama pada masa-masa permulaan Gereja kekristenan berkembang luas dinegeri-negeri Timur.

  1. Pandangan Kaum Futuris
Pandangan ini mempertahankan bahwa sesudah pasal 3, Wahyu membicarakan peristiwa-peristiwa zaman akhir. Kitab itu tidak mengenai zaman nabi iotu sendiri, juga tidak mengenai peristiwa-peristiwa sejarah yang kemudian, melainkan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi berkaitan dengan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Pandangan ini sungguh-sungguh menerima unsure nubuat dalam Wahyu (1:19; 4:1). Pandangan ini didukung oleh fakta bahwa: tak dapat disangkal Wahyu menuju ke pembangunan terakhir pemerintahan Allah, justru sebagian Kitab itu pasti menunjuk pada zaman akhir.
Keberatan utama atas pandangan ini ialah: pandangan ini cenderung memindahkan totalitas Kitab itu dari tempatnya dalam sejarah. Tidak mungkin memahami arti Kitab itu bagi para pembacanya yang pertama seandainya Kitab itu harus dimengerti dengan cara demikian.

  1. Pandangan Kaum Idealis atau Puitis
Pandangan ini menandaskan bahw atujuan utama Wahyu ialah menopang orang-orang Kristen yang teraniaya dan menderita untuk bertahan sampai akhir hidup mereka. Mencapai tujuan itu penulis menggunakan bahsa lambing dan maksudnya tidak dapat diartikan lain kecuali melambangkan serangkaian lukisan imajinatif tentang kemenangan Allah.
Pandangan-pandangan senacan ini dapat dihungkan dengan pandangan-pandangan lain, missal dengan gagasan-gagasan preteris. Kesulitannya ialah, pelihat menegaskan bahwa ia bernubuat tentang zaman akhir.

Bagaimana metode penafsiran yang benar ?

Tak satupun pandangan diatas yang memuaskan. Barangkali metode yang yang tepat iaalah harus menggabungkan nalar-nalar yang benar dari semua pandangan tersebut.
Nalar preteris yang menonjol ialah makna dan peranan Wahyu bagi orang-orang pada zamannya kitab itu ditulis, dan apapun pendapat kita tentang Kitab itu, pengertian ini harus dipertahankan. Nalar kaum histories yang melihat Wahyu menjelaskan gereja dalam seluruh sejarahnya juga tidak dapat dilepaskan, hal yang sama dengan kaum futuris yang serius menerima kesungguhan berita tentang zaman akhir. Wahyu memang menekankan kemenangan terakhir dari Allah, juga peristiwa-peristiwa yang menggugah semangat untuk hidup bagi Allah dengan masa-masa perlawanan berkecamuk sengit. Lagi pula orang Kristen selalu menyambut kepastian bahwa kemenangan Allah sudah pasti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.