Kamis, 06 September 2012

Kasih Karunia, Kemurahan dan Penghakiman.


(Tiga Prinsip Yang Merangkum Segenap Ajaran Injil)

Terdapat tiga prinsip dari kehidupan Kristen yang merangkum segenap isi Injil dan jika Anda bisa memahami ketiga prinsip, berarti bahwa Anda telah memiliki pemahaman yang utuh tentang Injil.

Apakah ketiga prinsip dasar itu?
Ketiga prinsip tersebut harus dipahami secara bersamaan, jika Anda mengabaikan salah satunya, maka doktrin Anda tidak akan memiliki keseimbangan, dan Anda tidak akan bisa berdiri teguh. Ini merupakan hal yang sangat mengerikan karena, kadang kala, di tengah gereja zaman sekarang, hanya prinsip pertama yang ditekankan sedangkan dua yang lainnya diabaikan dengan cara dikecilkan peranannya.

Jadi, apakah ketiga prinsip itu?

1.         Prinsip kasih karunia (grace)

Allah menangani kita dengan kemurahan, memaafkan kita sebagai respon terhadap pertobatan kita. Pengampunan ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan usaha-usaha kita. Kita diselamatkan tapi bukan karena perbuatan baik kita.

Jadi, prinsip yang pertama adalah prinsip kasih karunia yang juga dapat disebut sebagai pembenaran (justification). Pembenaran adalah kasih karunia Allah kepada kita di masa lalu di mana Dia telah mengampuni dosa-dosa kita di saat kita mengaku di hadapan-Nya dan bertobat dari dosa-dosa kita. Dia mengampuni kita begitu saja, bukan atas dasar perbuatan yang pernah kita lakukan atau prestasi kita. Dia mengampuni kita dengan cuma-cuma. Kita tidak akan bisa mencapai keselamatan bagi kita sendiri, karena jika kita mampu maka Kristus tidak perlu mati bagi kita.

Itulah poin pertama dari Injil, poin yang paling mendasar. Demikianlah, di dalam Efesus 2:9, Paulus menetapkan poin ini. Kita diselamatkan oleh kasih karunia, bukan oleh perbuatan baik, jadi kita tidak punya dasar apapun untuk menyombongkan diri.

Akan tetapi, ayat yang selanjutnya itu sama pentingnya. Kita diselamatkan bukan oleh perbuatan baik kita, akan tetapi kita diciptakan di dalam Kristus Yesus untuk mengerjakan perbuatan baik. Bukan diselamatkan oleh perbuatan baik tetapi diselamatkan untuk mengerjakan perbuatan baik. Bagian yang kedua ini sama pentingnya, namun seringkali diabaikan. Bukan karena perbuatan baik maka kita ini diselamatkan akan tetapi kita ini diselamatkan untuk mengerjakan perbuatan baik. Itulah rencana Allah bagi keselamatan kita.

2.         Prinsip kemurahan (graciousness)
Pokok yang kedua adalah kemurahan (graciousness) – untuk mengerjakan perbuatan baik.

Jika Anda hidup untuk mengerjakan perbuatan baik sebagai hasil dari kasih karunia Allah yang mengubah diri Anda, maka perbuatan-perbuatan baik itu akan terlihat seperti apa? Akan terlihat penuh dengan kasih karunia dan kebenaran (full of grace and truth). Anda akan menjadi murah hati melalui kasih karunia Allah di dalam hidup Anda. Kita diselamatkan oleh kasih karunia yang bekerja di dalam diri kita yang akan menghasilkan kemurahan di dalam diri kita.

Apakah Anda terlihat murah hati di dalam kehidupan Anda? Apakah perilaku kita murah hati? Apakah ketika orang lain bertemu dengan kita, maka mereka akan berkata, “Oh, orang itu sangat murah hati.” Seperti Yohanes yang mampu memberi kesaksian tentang Yesus, “Kami hidup bersama Dia, kami bersekutu dengan-Nya, dan kami memberikan kesaksian berikut ini: Dia penuh dengan kasih karunia dan kebenaran.” Yesus penuh kasih karunia dan kebenaran. Demikian murah hati pribadi-Nya. Dapatkah kesaksian itu diberikan oleh orang lain terhadap diri kita? Dengan cara apa kita akan mencerminkan kasih karunia Allah di dalam hidup kita?

Kita kerap memakai istilah teologi yang disebut ‘pengudusan’ (sanctification) di dalam membahas kemurahan ini. Kemurahan ini, dalam pengertiannya yang sederhana, adalah cara kita berurusan dengan orang lain sebagaimana cara Allah berurusan dengan kita: karena Dia menangani kita dengan penuh kemurahan, maka kita juga berurusan dengan orang lain dengan penuh kemurahan pula, dengan demikian, kemurahan itu ada di dalam tindakan kita, di dalam perilaku kita.

Sangatlah menyebalkan melihat orang Kristen yang berperilaku tidak murah hati, kasar, tidak sopan, tidak menyenangkan, tanpa pengertian, berpikiran picik, egois, bebal, dogmatik dan angkuh. Sangat menyebalkan! Kita harus murah hati jika kita sudah menerima kasih karunia Allah. Ini bukanlah suatu pilihan. Menjadi murah hati bukanlah suatu pilihan.

Ini juga merupakan hal yang dimaksudkan oleh Paulus di dalam Efesus 5:1 Jadilah penurut-penurut (imitators = peniru-peniru) Allah. Itu adalah suatu perintah. Ini bukanlah sebuah saran yang menganjurkan betapa baiknya jika menjadi peniru-peniru Allah. Kita harus menjadi peniru-peniru Allah.

Apakah arti dari ‘peniru Allah’ itu? Artinya adalah bahwa kita harus menangani orang lain sebagaimana Allah telah menangani kita. Allah telah mengampuni kita, hal yang memang telah Dia lakukan, dan kita juga harus mengampuni orang lain. Itulah artinya menjadi peniru-peniru Allah. Tak ada yang rumit dalam pemahamannya. Pokok ini sangatlah ditekankan di dalam pengajaran Yesus dan sungguh luar biasa melihat betapa pokok ini justru tidak lagi ditekankan.

3.         Prinsip penghakiman (judgement)

Allah akan menghakimi kita sesuai dengan perbuatan-perbuatan kita, baik untuk perbuatan yang baik ataupun yang jahat. Dia akan menangani kita sebagaimana cara kita menangani orang lain

Demikianlah, karena kasih karunia Allah di masa lalu telah mengampuni dosa-dosa kita, maka di masa sekarang ini kita wajib bermurah hati sampai kesudahannya, supaya pada Hari Penghakiman,  Allah akan menghakimi kita sesuai dengan cara kita menghadapi orang lain. Inilah prinsip yang ketiga. Penghakiman akan didasarkan pada perbuatan-perbuatan kita. Allah akan menghakimi kita sesuai dengan perbuatan-perbuatan kita, entah yang baik maupun yang jahat, tidak terbatas pada yang baik saja.

Baru-baru ini saya membaca sebuah buku, dan penulis buku itu mempertanyakan apa arti penghakiman bagi orang Kristen? Jawaban orang itu adalah bahwa penghakiman terhadap orang Kristen itu sekadar ucapan terima kasih dari Allah kepada Anda. Pertanyaan saya adalah apa hal yang telah Anda perbuat dan layak untuk menerima ucapan terima kasih dari Allah? Renungkanlah kehidupan Anda dan pikirkanlah, untuk apa Allah berterima kasih kepada Anda? Hal apa yang telah Anda lakukan yang perlu mendapatkan ucapan terima kasih? Apakah untuk sepuluh ribu rupiah yang telah Anda masukkan ke kotak persembahan? Pada dasarnya uang itu milik-Nya sendiri. Jumlah yang malahan jauh lebih sedikit dari jumlah perpuluhan sebagaimana yang ditetapkan di dalam Perjanjian Lama. Apakah ada milik kita yang bukan menjadi milik-Nya?

Berkaitan dengan hal penghakiman ini, mari kita beralih sejenak ke dalam 2 Korintus 5:10. Izinkan saya menunjukkan kepada Anda bahwa penghakiman kepada orang Kristen bukan sekadar urusan ucapan terima kasih. Penghakiman ini bisa menjadi sangat keras. Paulus sangat memahami pengajaran Yesus sehingga ia tidak akan sampai pada pandangan bahwa orang Kristen tidak akan dihakimi atau dihukum sehubungan dengan cara mereka menjalani kehidupan atau cara mereka berperilaku. Paulus tidak membuat kesalahan semacam itu. 2 Korintus 5:10 berkata, “Kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus,” Kita yang harus menghadap takhta, bukan orang non-Kristen. Orang Kristenlah yang sedang Paulus bicarakan saat dia menyurati jemaat di Korintus. Kalian, jemaat di Korinstus dan aku, kita semua akan hadir di hadapan takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, hal yang baik.

Kita tentunya berharap agar Paulus berhenti di sana. Ternyata tidak, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” Sesuai dengan yang dilakukannya di dalam hidupnya berarti sesuai dengan perbuatan Anda di dalam kehidupan Anda, demikianlah kita akan menerima apa yang baik ataupun yang jahat. Bukan sekadar ucapan terima kasih.

Akan ada hamba yang dihardik-Nya dengan ucapan, “menyingkirlah dari-Ku, kamu hamba yang jahat.” Orang itu memang seorang hamba Tuhan, akan tetapi dia jahat. Dia menerima apa yang jahat akibat apa yang telah dia kerjakan selama hidupnya. Penghakiman ini, sebagaimana yang telah kita lihat, didasarkan pada prinsip yang kedua. Didasarkan pada fakta bahwa Allah akan menangani kita sesuai dengan cara kita menangani orang lain.

Implikasi :
Demikianlah ketiga prinsip itu: kasih karunia (grace), kemurahan (graciousness), dan penghakiman (judgement). Mari kita merangkum ketiga prinsip itu. Allah telah menangani kita dengan penuh kemurahan dalam kaitannya dengan pertobatan kita, dan hal ini tidak dikaitkan dengan perbuatan baik kita. Walaupun kita diselamatkan bukan oleh perbuatan baik, akan tetapi kita diciptakan di dalam Kristus untuk tujuan mengerjakan perbuatan baik.

Dengan demikian, kita sampai pada prinsip yang kedua: Dia mengharapkan agar kemurahan muncul di dalam hidup kita. Dan kemurahan dapat kita artikan sebagai berikut, bahwa kita berurusan dengan orang lain sama seperti Allah telah berurusan dengan kita di dalam kemurahan.

Pada hari Penghakiman, Dia akan menghakimi kita sesuai dengan cara kita berurusan dengan orang lain. Renungkanlah hal itu. Itulah rangkuman sederhana dari segenap ajaran injil: kasih karunia, kemurahan dan penghakiman.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar